Selasa, 18 September 2012

DEBAT JOKOWI-AHOK VS FOKE-NARA

Sudah selesai, sebuah debat yang komprehensif dan bagus menurut saya. Memang ada juga kadar emosional yang tinggi dan bersikap kekanak-kanakan muncul pada acara debat yang disiarkan langsung oleh MetroTV itu. Tapi itu juga harus disikapi secara positif, karena menunjukkan sebuah debat tanpa rekayasa, spontan dan apa adanya.
Sekarang mari kita lihat secara keseluruhan. Yang paling emosional dan arogan tetap saja dimenangkan oleh Foke. Bahkan ia sempat bilang ke Ahok “Kalau sama Nachrowi boleh bersikap kurang ajar tapi jangan sama saya!” He he he…untung saja Ahok nggak sampai bilang, “Emang siapa elo?” Tapi ya sudahlah itu memang sudah wataknya.
Dari segi penguasaan materi visi misi masing-masing tetap saja Jokowi-Basuki (Ahok) di atas angin. Lihat saja penajaman visi yang real dan konkrit dari Jokowi. Cara ia mengulas dan menjawab. Apa lagi ketika giliran Ahok memaparkan tentang kesehatan dan mempertanyakan (serta bilang) bahwa apa yang pemda DKI lakukan saat ini sebenarnya belum bagus bahkan salah kaprah. Beda jauh dengan kartu sehat yang akan mereka keluarkan. Mati kutu Foke Nara mendengarkan pemaparan yang komprehensif dan sangat menguasai materi.
Dalam segmen-segmen terakhir, semakin menjadi-jadi ‘kejengkelan’ Bang Foke ditantang dan ditentang habis-habis oleh Ahok. Foke boleh bangga bahwa dirinya pintar dan lulusan Jerman, tapi rupanya ia kena batunya juga bahwa Ahok justru terlihat lebih pintar dan memahami masalah. Ketika Ahok mempertanyakan secara gamblang hasil pelajaran dari Bogota tentang angkutan masal (bukan sekedar bicara soal panjang koridor), Foke menjawab dengan pengulangan dan berputar-putar. Ahok terlihat terus mencecar dengan mempertanyakan kalau dari 2004 implementasinya sudah didengungkan untuk dikerjakan, kenapa baru AKAN dimulai sekarang setelah sudah mau turun? Tergelak saya mendengarnya, kawan! Foke pun terlihat jengkel dan gusar. Tapi akhirnya Foke hanya bisa tersenyum simpul (senyum malu).
Tapi Nara ditolong oleh Ahok dengan tidak menujukan pertanyaan langsungnya ke Nara, tapi ia bilang ya buat berdua…sama saja kan? Kalau pertanyaan tajam tersebut diarahkan langsung ke Nara, saya berani jamin ia tak akan kuat dan mampu menjawabnya. Makanya jangan heran Foke mengambil alih untuk menjawabnya. Selamatlah muka si Nara dari rasa malu berlebihan.
Pokoknya perdebatan yang cukup seru. Pembawaan Jokowi yang kalem tapi berisi dan tegas serta tajam dalam menjawab, didukung kemampuan penguasaan bahan dan wawasan yang luas dari seorang Ahok membuat mereka benar-benar terlihat lebih unggul. Foke yang masih terlalu arogan dan emosional tidak mampu mempertunjukkan kepiawaiannya menjawab debat. Apalagi si Nara, ialah yang paling (maaf) tidak berisi. Faktor lemah calon nomor satu. Tidak mempunyai kemampuan berdebat secara sehat, dan wawasan yang sangat sangat minim.
Bahkan untuk menutupi segala kelemahannya dalam debat tersebut, ia kembali memancing dengan isu SARA. Apapun alasannya, panggilannya dan kata-kata candaannya terhadap Ahok menunjukkan kapabilitas dan kapasitas apa yang seorang Nara itu miliki. Kosong melompong tapi kuat berbunyi, kawan! Bahkan lagi ia berusaha menutupi kekurangannya dengan berbagai cara, mengulur waktu serta terus melucu yang tidak berbobot. Kalau boleh saya kasih nilai, Nara menduduki posisi paling bawah. Kualitasnya sangat diragukan, kawan! Apa mungkin Foke salah gandeng orang?
Sekarang sudah semakin jelas terlihat, siapa yang tajam dalam pemaparan dan siapa yang hanya berkualitas ‘text book’ saja. Jangan lupa kawan, dalam debat tadi itu, Foke mengatakan Jakarta butuh pemimpin yang bukan hanya mampu beretorika tapi tidak dapat menjalankan apa yang dikoar-koarkannya. Itu memang dialamatkan langsung ke Jokowi. Ketika mendapat kesempatan menanggapi, Jokowi tersenyum sambil menguncinya dengan telak, Bang Foke sudah hampir habis masa lima tahun kepemimpinannya, sekarang saya Tanya mana MRT-nya? Mana Monorelnya? Mana tambahan transportasi publiknya yang dijanji-janjikan sejak tahun 2007? Kok baru akan dimulai sih? Jadi Jokowi bilang bukannya kebalik, Fokelah yang selama ini hanya janji-janji dan beretorika?! Jangan dibalik-balik. Kembali Foke hanya sanggup tersenyum, dan tentu saja gusar dan jengkel.
Jadi kawan, silahkan pakai akal sehat. Paling tidak, Indonesia sudah mampu menyelenggarakan debat yang tidak diatur-atur dan pura-pura. Debat yang bagus untuk pencerahan anak bangsa. Tidak salah Metro TV memulainya dan menutupnya dengan lagu “Padamu Negeri”. (MA)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar